Latest Entries »

 

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT,GPT),
tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm! Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index).
Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.
Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.

Penyebab utama kerusakan hati adalah :
1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
2. Tidak buang air di pagi hari
3. Pola makan yang tidak beraturan
4. Tidak makan pagi
5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan
6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan
7. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
8. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/ 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.

Bukti Organ Tubuh Anda akan hancur akibat begadang

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Sebab :
Malam hari pk 21.00 – 23.00 :
Adalah pembuangan zat-zat tidak berguna / beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik.
Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Malam hari pk 23.00 – dini hari pk 01.00 :
Saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

Dini hari pk 01.00 – 03.00 :
Proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.

Dini hari pk 03.00 – 05.00 :
De-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

Pagi pk 05.00 – 07.00 :
De-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.

Pagi pk 07.00 – 09.00 :
Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya.
Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali.
Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna.
Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.

http://hendybayublog.blogspot.com/2011/10/organ-tubuh-yang-akan-hancur-akibat.html

GambarSebagai pelajar, membiasakan diri untuk berpikir kritis adalah suatu keharusan. Tidak sebatas di sekolah, saat berada di tengah masyarakat pun Anda perlu memiliki sikap kritis. Hal ini akan membantu Anda dalam mengasah keterampilan berfikir, membentuk karakter yang cepat tanggap dalam menerima hal-hal baru, menumbuhkan kreativitas  dan menambah wawasan serta membantu Anda dalam memilah informasi yang benar dan tidak benar. Penting sekali bukan?

Setelah Anda mengetahui pentingnya berpikir kritis, selanjutnya adalah pengertian dari berpikir kritis. Menurut Ennis (1962) berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Mengenai reflektif, dalam artikel jurnal Teaching and Teacher Education (vol.12.no.1, Januari 1996), Helen L. Harrington cs mengemukakan dan mengembangkan tiga komponen sikap reflektif yaitu:

  1. Open mind edness atau keterbukaan, sebagai refleksi mengenai apa yang diketahui, dalam pembelajaran ada tiga pola dasar yaitu pola berfokus pada guru, siswa, dan inklusif;
  2. responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional berkenaan dengan dampak pembelajaran pada siswa saja, siswa dan guru, serta siswa, guru dan orang lainnya;
  3. whole heart edness atau kesungguhan dalam bertindak dan melaksanakan tugas, dengan cara pembelajaran langsung guru, proses interaktif, dan proses interaktif yang kompleks.
  1. Pengertian kritik

Sifat kritis muncul dari aktivitas kritik. Nah, apa yang dimaksud dengan kritik? Dalam KBBI kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb. Dari pengertian tersebut Anda dapat mengidentifikasi bahwa objek kritik berupa hasil karya, maupun pendapat. Pada bab ini objek kritik yang akan Anda pelajari berupa informasi yang terdapat dalam artikel, baik artikel yang ada di media cetak (majalah, koran, selebaran, dsb) maupun media elektronik (TV, radio, internet, dsb).

Informasi yang dapat Anda kritik dalam suatu artikel bisa berupa isi (informasi) maupun struktur artikel tersebut. Lalu apa kata kunci kalimat kritik? Kalimat kritik biasanya ditandai dengan kalimat “saya kurang setuju atau sependapat dengan pernyataan… dalam artikel ini, karena …”.

Bila sebelumnya Anda pernah mendapatkan informasi dari suatu artikel namun informasi tersebut berbeda dengan pendapat Anda. Tentu Anda ingin memberikan kritik terhadap informasi tersebut. Nah Anda boleh memberikan kritik, namun Anda tidak boleh sembarangan. Agar kritik Anda bermanfaat dan baik ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan kritik. Apakah syarat kritik yang baik? Bagaimana kiat-kiatnya? Jawabannya akan Anda peroleh pada poin berikutnya.

  1. Syarat kritik dan kiat-kiat mengkritik

Untuk lebih memahami seperti apa berfikir kritis itu dan bagaimana cara mengkritik yang baik? Anda akan berlatih dengan contoh berita serta contoh hasil kritiknya. Perhatikan wacana berikut!

Perang Suriah

Peperangan yang terjadi di Suriah dua tahun belakangan ini telah memakan banyak korban jiwa. Perang Suriah merupakan peperangan antara masyarakat Suriah dengan pemerintahnya sendiri, yakni Bashar Al Assad. Itu artinya, perang ini merupakan perang dalam negera mereka sendiri, sehingga negara lain tidak perlu ikut campur terhadap permasalahan mereka.Biarkan mereka menyelesaikan urusan negara mereka sendiri dan kita membenahi negara kita sendiri. Bila kita mengingat sejarah peperangan di dunia ini, maka tidak akan kita temukan yang namanya peperangan abadi, pasti suatu saat akan berhenti. Sama seperti peperangan di Suriah saat ini, seiring berjalannya waktu, peperangan di negeri Timur Tengah itu akan padam dengan sendirinya. (shintia, 6/3/2013)

Nah, apa yang Anda pikirkan setelah membaca berita tersebut? Setujukah dengan penulis berita yang menyiratkan sikap pasrah dan memikirkan diri sendiri serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain (individualis)? Bila tidak, tentu Anda akan mengungkapkan kritik terhadap berita tersebut. Dan anda pasti punya alasan mengapa tidak setuju dengan pendapat yang ada di dalam berita tersebut. Berikut akan diberikan kiat-kiat dalam proses menulis sebuah kritik:

(1)    Tuliskanlah kalimat kritik Anda sesuai dengan syarat kritik, yakni adanya kalimat yang menyatakan bahwa Anda tidak setuju atau kurang setuju dengan berita itu, lalu berikan alasan dari ketidaksetujuan Anda. Akan lebih baik jika Anda tahu solusi dari masalah tersebut lalu menyertakannya dalam kritikan Anda.

(2)   Tapi ingat, Anda jangan menyertakan emosi yang berlebihan dalam menuliskan kritik, karena akan mempengaruhi kosakata Anda menjadi kasar dan tidak baik. Kontrol emosi Anda, meski tidak setuju, Anda tetap harus menggunakan kosakata yang halus dan baik dalam memberikan kritik, karena bagaimanapun tujuan dari mengkritik adalah agar bermanfaat bagi orang lain, memperbaiki kesalahan informasi dalam berita yang Anda kritisi, dan diterima sebagai masukan yang membangun.

(3)   Bila Anda menemukan ada kosakata dalam kalimat kritik Anda yang kurang sopan, maka perbaikilah, cari kata lain yang lebih baik.

Semua  tujuan tersebut akan tercapai dan diterima bila kita menggunakan cara yang baik. Karena tidak semua niat baik akan berhasil baik apabila caranya tidak baik. Niat baik yang disertai cara yang baik barulah akan memperoleh hasil yang baik pula.

Berikut adalah contoh hasil kritik dari wacana Perang Suriah:

Saya tidak sependapat dengan pernyataan bahwa kita tidak perlu ikut campur pada permasalahan perang Suriah dan cukup membenahi negara kita saja. Hal ini karena pernyataan tersebut menyiratkan sikap individualis. Sikap ini adalah sikap yang tercela karena melanggar nilai-nilai agama dan budaya Indonesia, nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai pada UUD 1945. Sebagai negara mayoritas muslim, menolong masyarakat Suriah yang juga muslim adalah kewajiban. Membantu mencarikan solusi bagi Suriah juga adalah wajib sebagai bukti pengamalan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Di sinilah seharusnya negara bisa membuktikan pengamalan dasar negaranya sendiri. Dan bukan berarti apabila negara kita menolong Suriah bisa berakibat mengabaikan negara Indonesia sendiri, negeri ini penuh dengan para pakar dan inelektual, pasti bisa mengatasi masalah tersebut bila mau bekerja sama.

Bagaimana, terdengar baik dan solutif bukan? Baginilah kritik yang baik dan membangun itu. Dalam kritik tersebut terkandung 3 syarat kritik yang baik, yakni (1) pernyataan tidak setuju, (2) alasan katidaksetujuan, dan (3) solusi permasalahan. Kalimatnya menggunakan kata yang sopan, tidak bertele-tele/fokus pada poin yang dikritik dan runtut. Sehingga tidak membingungkan pembaca kritik.

(4)   Setelah menuliskan dan memperbaiki kalimat kritik Anda sesuai syarat kritik yang baik dan dengan bahasa yang santun dan runtut, maka ketika kalimat kritik tersebut akan diperdengarkan, utarakanlah kalimat kritik tersebut dengan suara yang jelas dan intonasi yang santun. Bagaimana intonasi yang santun itu? Intonasi yang santun adalah intonasi yang disesuaikan dengan objek penerima kritik Anda, bila yang akan Anda kritik adalah karya atau pendapat dari seseorang yang lebih tua, maka intonasi Anda harus lembut tapi meyakinkan namun tidak terkesan menggurui. Bila sebaya, maka intonasi Anda harus terdengar akrab dan tidak terkesan menggurui. Bila lebih muda, intonasi Anda harus terkesan berwibawa namun tidak sombong. Untuk penjelasan yang lebih lanjut tentang intonasi yang santun, Guru Anda akan menjelaskan.

Sudah semakin paham bagaimana cara mengkritik yang baik? Saatnya Anda melatih kemampuan berpikir kritis Anda dan kemampuan mengkritik yang baik dengan mengerjakan soal berikut!

 

 

photo moment FKIP EXPO

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

 

Koran : Media Ummat edisi 2-28 Mai 2012
A. Prefiks
1. Dulu banyak orang berharap pada…
ber- + harap = berharap
berharap= punya harapan

2. …karena dianggap representasi umat Islam
di- + anggap = dianggap
dianggap = suatu perbuatan yang pasif

3. Ketika ada kasus-kasus yang terkait kepentingan Islam dan…
ter- + kait = terkait
terkait = dalam keadaan terkait; memiliki kaitan

4. Partai-partai Islam justru membisu
mem- + bisu = membisu
membisu = menjadi seperti orang bisu

5. Ada anggota partai Islam yang bersuara lantang memprotesnya
ber- + suara = bersuara
bersuara = mengeluarkan suara

6. Ketua Ljnah Tsaqifiyah DPP HTI Hafidz Abdurrahman menilai,
me- + nilai = menilai
menilai = memberi nilai

7. Kondisi ini terjadi karena partai-partai Islam telah terjebak demokrasi
ter- + jadi = terjadi
terjadi = sudah terjadi

8. Kondisi ini terjadi karena partai-partai Islam telah terjebak demokrasi
ter- + jebak = terjebak
terjebak = ketiba-tibaan

B. Sufiks
1. Dengan adanya partai-partai Islam
ada + -nya = adanya
adanya = petunjuk keberadaan

2. Mereka tidak mengeluarkan tanggapannya
tanggapan + nya = tanggapannya
tanggapannya = petunjuk kepemilikan

3. Jadilah partai-partai Islam yang bajunya saja yang Islam
baju + -nya = bajunya
bajunya = petunjuk kepemilikan

C. Konfiks
4. …, kaum Muslim menginginkan nilai-nilai Islam bisa diwujudkan dan…
men- + ingin + -kan = menginginkan
menginginkan = menjadi ingin

5. …, kaum Muslim menginginkan nilai-nilai Islam bisa diwujudkan dan…
di- + wujud + -kan = diwujudkan
diwujudkan = kejadian yang disengaja;menyengaja

6. …dan orang-orang yang mengembannya amanah.
meng- + emban + -nya = mengembannya
mengembannya = melakukan kegiatan

7. Namun fakta menunjukkan sebaliknya
men- + tunjuk + -kan = menunjukkan
menunjukkan = (proses) arah

8. Namun fakta menunjukkan sebaliknya
se- + balik + -nya = sebaliknya
sebaliknya = searah namun nilainya terbalik

9. Ketika ada kasus-kasus yang terkait kepentingan Islam dan…
ke- + penting + -an = kepentingan
kepentingan = hal/suatu yang abstraksi

10. Partai-partai Islam kini tidak bisa dibedakan lagi dengan partai sekuler
di- + beda + -kan = dibedakan
dibedakan = suatu perbuatan yang pasif

11. Mereka tidak mengeluarkan tanggapannya
menge- + luar + -kan = mengeluarkan
mengeluarkan = membawa ke luar

12. Ada anggota partai Islam yang bersuara lantang memprotesnya
mem- + protes + -nya = memprotesnya
memprotesnya = melakukan protes terhadap

13. Partai itu langsung disingkirkan
di- + singkir + -kan = disingkirkan
disingkirkan = suatu perbuatan yang pasif

14. Pelajaran FIS di Aljazair, Hamas di Palestina menunjukkan hal itu
peN- + ajar + -an = pelajaran
pelajaran = apa-apa yang diajarkan

15. Tidak aneh jika ada yang mengatakan demokrasi itu gombal
meN- + kata + -kan = mengatakan
mengatakan = mengeluarkan perkataan

1. Arti penting memori dan ilmu pengetahuan
Islam menurut Yusuf Al Qardhawi (1984) adalah akibat yang berdasarkan ilmu pengetahuan bukan berdasarkan penyerahan diri yang membabi buta. Hal ini tersirat dalam firman Allah :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah” (Muhammad : 19)
Selanjutnya, berikut ini penyusunan kutipan firman-fiman Allah baik secara Eksplisit maupun Implisit mewajibkan seseorang itu untuk belajar agar memperoleh ilmu pengetahuan :
a. Allah berfirman dalam surat Al-Zumar ayat 9 yang berbunyi :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah : apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu menerima pelajaran”
b. Surat Al-Isra’ ayat 36 :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu membiasakan diri daripada apa yang tidak kamu ketahui, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan daya nalar pasti akan ditanya mengenai itu”
Perintah belajar diatas, tentu saja harus dilaksanakan melalui proses kognitif dalam hal ini, system memori yang terdiri atas memori sensasi, memori jangka pendek dan memori jangka panjang berperan sangat aktif dan menentukan berhasil atau gagalnya seseorang dalam meraih pengetahuan dan keterampilan.
2. Alat Psiko- Fisik untuk belajar
Islam memendang uman manusia sebagai makhluk yang dilahirkan dalam keadaan kosong, tak berilmu pengetahuan, namun Tuhan memberikan potensi yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemaslahatan umat itu sendiri.
Adapun alat-alat yang bersifat psikis seperti mata dalam hubungannya dengan kegiatan belajar merupakan subsistem yang satu sama lain berhubungan secara fungsional sebagaiman firman Allah dalam Q.S An-Nahl ayat 78 :
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan daya nalar agar kamu bersyukur”.
Kata Af-idah dalam ayat ini menurut seorang pakar tafsir Al Quran Dr Quraissy Shihab (1992) berarti daya nalar, yaitu potensi atau kemampuan berfikir logis atau kata lain “akal”. Dalam Ibnu Katsir juz 11 halaman 580 Af-idah berarti akal yang menurut sebagian orang tempatnya dijantung (Qalbu). Sedangkan sebagian lainya menyatakan bahwa Af-idah itu terdapat dalam otak (dimagh).

(sumber: http://andi1988.wordpress.com/2009/01/28/teori-teori-belajar-2/ )

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

Lomba Narasumber Pendidikan FKIP EXPO 2012                                        Artikel

Narasumber: Drs. Mangatur Sinaga M.Hum                                                     Nama : Shintia Minandar

Tema              : Totalitas Pendidikan                                                                        NIM  : 1105113581

Judul              :                                                                                                                   FKIP PBSI 2011

Sistemiknya Problema Pendidikan

Kemajuan suatu bangsa dapat tercapai ketika semua sektor dalam tatanan negaranya maju. Satu di antara banyak sektor itu adalah pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor paling vital dalam kehidupan manusia serta kehidupan bernegara, mengapa bisa dikatakan demikian? Contoh saja kemajuan negara Tirai Bambu dalam sektor teknologinya yang canggih, hal ini dikarenakan mereka sangat memperhatikan sektor pendidikan mereka sebelumnya. Dengan majunya sektor pendidikan maka akan menghasilkan SDM yang berkualitas yang kemudian akan menghasilkan karya tekhnologi yang berkualitas pula. Bila teknologi sudah maju dan menumbuhkan daya jual maka akan menyokong sektor ekonomi, lalu sektor pembangungan, dan sektor-sektor lainnya. Contoh yang lebih sederhana adalah anak yang bisa berbicara padahal belum bisa membaca dan menulis, ini terjadi karena orang tua si anak yang mengajarkan, dengan kata lain si anak telah menjalani proses pendidikan berbicara dari orang tuanya. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sekecil apapun perkembangan yang dialami manusia dalam aspek apapun pasti tidak lepas dari peran pendidikan. Perumpamaan pendidikan seperti mata rantai yang sangat bisa mempengaruhi keutuhan rantai-rantai lannya dalam kehidupan bernegara.

Dengan sistemiknya pengaruh pendidikan tersebut, maka akan sangat berbahaya jika sektor pendidikan suatu negara mengalami keterpurukan. Mirisnya, sektor pendidikan di Indonesia  saat ini sedang mengalami hal tersebut, seperti yang diungkapkan Drs. Mangatur Sinaga M.Hum mengenai wajah pendidikan di Indonesia dewasa ini “potert pendidikan Indonesia dewasa ini adalah amburadul. Orang-orang yang masuk ke LPDK, seperti FKIP maupun IKIP tidak memiliki background sebagai guru maupun pendidik(pedagogik), karena kebanyakan mereka berasal dari SMA, SMK, dsb, maka wajar tidak ada kemampuan pedagogik yang dimiliki karna kemampuan ini hanya ada dan diajarkan di sekolah khusus untuk menjadi guru, kalaupun ada sangat sedikit sekali, dan tidak cukup untuk dijadikan bekal. Dengan tidak adanya kemampuan pedagogik ini, mereka tidak siap untuk dibina menjadi tenaga pengajar sekaligus pendidik. Seharusnya yang boleh masuk ke FKIP atau IKIP adalah tamatan dari Sekolah Keguruan seperti SPG yang sudah dibekali kemampuan pedagogik, ….”

Banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan pendidikan, di antaranya potensi masyarakat, seperti yang telah disebutkan di atas dan solusinya “…hidupkan kembali sekolah-sekolah guru, apapun namanya yang penting dirikan lagi, agar orang-orang yang akan dibina dan diasah lagi kemampuan pedagogiknya di LPDK adalah orang-orang yang memang siap” Mangatur menambahkan. Guru adalah penentu pertama bagi murid-muridnya, guru yang berkompeten tentu akan menghasilkan murid yang berkompeten. Untuk itu perlu adanya pelatihan khusus dalam proses menghasilkan tenaga pendidik yang berkompeten, karena mendidik bukan perkara main-main seperti yang diutarakan Dosen FKIP PBSI ini“mendidik merupakan usaha sadar dan terencana, yang menentukan mau jadi apa nanti seorang anak yang didiknya” dan proses ini tentu saja tidak instan. Proses yang instan akan mengasilkan guru abal-abal, dan guru abal-abal tentu akan membentuk murid yang abal-abal pula, akan bagaimana masa depan negara ini jika generasi mudanya abal-abal?

Selain masyarakat, hal yang paling utama dalam upaya perbaikan sistem pendidikan yang amburadul saat ini adalah agama. Seperti yang ditambahkan Mangatur“ agama itu seperti benteng. Apa yang bisa menghalangi ketika ada sesorang yang pintar namun dia gunakan kepintarannya itu untuk membuat bom? Agama bukan? Seseorang yang sadar agama tentu tidak akan menggunakan kepintarannya dalam melakukan hal-hal yang tidak baik seperti itu” lebih lanjut beliau menambahkan “secara kognitif bisa dikatakan pendidikan sekarang berhasil, namun secara afektif dan psikomotor belum”. Hal ini membuktikan bahwa pintar saja tidak cukup untuk menghasilkan generasi yang cemerlang yang akan sanggup bersaing dimasa depan sebagai pemegang tampuk pemerintahan dengan negara-negara lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata sistem pendidikan kita telah dirasuki sekulerisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan, khususnya kehidupan berpendidikan, padahal agama adalah pengontrol untuk menjaga seseorang dari kemaksiatan meskipun dia pintar, karena pintar saja tidaklah cukup harus ada pengontrol kepintarannya. Banyak manusia pintar di Indonesia, namun mereka korupsi, banyak kaum intelektual di Negri ini, namun mereka melakukan seks bebas, aborsi, terorisme, dan tawuran. Ini membuktikan bahwa kaum intelektual hasil sistem pendidikan yang sekuler sekarang ini mengalami krisis moral, padahal pelajaran moral telah diajarkan dalam pendidikan.  “agama adalah puncak segalanya, kemudian filsafat, barulah yang lainnya..” tambah Mangatur. “guru perlu agama, gak bisa pintar saja.” lanjut beliau, bila diperhatikan tidak banyak tenaga pendidik yang mengaitkan pelajarannya dengan agama sewaktu mengajar, padahal ini sangat peniting mengingat agama sebagai pengontrol sikap, selain itu bukankah poin satu dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa? Dalam perkuliahan matakuliah agama yang hanya 2 SKS sama sekali tidak cukup untuk membentuk generasi yang bisa mengontrol kepintarannya. Untuk itu aplikasi dari kesadaran beragama dalam pendidikan harus ditingkatkan.

Makna pendidikan sangat luas, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa sekecil apapun perkembangan yang dialami manusia dalam aspek apapun pasti tidak lepas dari peran pendidikan. Cara memperoleh pendidikan sejatinya tidak hanya bisa didapat di lembaga formal seperti sekolah dan perguruan tinggi, namun juga lembaga non formal, yakni keluarga. Apakah permasalahan pendidikan dipengaruhi oleh keluarga? Jelas, karena pendidikan pertama manusia justru berasal dari keluarga. Pembentukan pola pikir dan tindakan anak didik tidak hanya terbentuk saat di sekolah tapi juga saat di rumah. Pekerjaan Rumah(PR)yang merupakan bentuk pendidikan yang diberikan guru agar  murid mau belajar dirumah, rajin membaca, dan semangat menuntut ilmu akan terjadi jika ada dukungan dari keluarga.

Negara juga faktor penentu wajah pendidikan, karena seperti yang katakan Mangatur“ Negara adalah pelegalisasinya (aturan maupun kurikulum pendidikan)” sistem pendidikan berjalan sesuai kurikulum yang turunkan Dinas Pendidikan, dan Dinas Pendidikan tentu hanya akan mengatur kurikulum yang selaras dengan tujuan maupun sistem Negara, dan Negara yang punya kuasa untuk melegalisasi maupun tidak melegalisasi (menyetujui) apapun yang dikeluarkan Dinas. Sistemik bukan? Dan negara merupakan batang tempat tumbuhnya cabang-cabang  seperti pendidikan, cabang ekonomi, cabang budaya, dan banyak lagi cabang lainnya. Mengenai sistem Pendidikan yang ternyata dipengaruhi sistem pemerintahan(negara) maka jika kita tilik ternyata sistem pendidikan sekuler ini telah menghasilkan murid-murid yang study oriented- hanya berfokus pada belajar- untuk menacapai materi saja. Jika ditanya: Untuk apa belajar mati-matian? Tentu jawabannya: biar cepet lulus trus cepet dapat kerja dan cari duit yang banyak. Kapitalistik bukan? Apalagi dengan biaya pendidikan yang tiap tahunnya makin meroket, mempersulit masyarakat untuk meraih pendidikan, tentu apabila contohnya seseorang yang telah bersusah payah mengumpulkan biaya demi kuliah, maka ketika tamat maupun menjelang itu dia akan berusaha mencari cara untuk ganti rugi dana yang telah dikeluarkannya. Bisa jadi ini adalah cikal bakal korupsi. Semakin tahun biaya hidup, khususnya pendidikan semakin mahal,  seiring dengan itu kasus korupsipun makin menumpuk, dan yang melakukan itu bukan kaum yang tidak mengecap pendidikan tinggi. Kebanyakan dari mereka justru orang-orang cerdas, namun menyalahgunakan kecerdasannya. Ironis.

Dari uraian tersebut, jelas sudah bahwa problem pendidikan Indonesia sudah sistemik, saling berpaut antara keluarga, masyarakat, negara, serta agama. Akar masalahnya karena pendidikan kita telah dipengaruhi sistem kapitalis-sekuler, sistem yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup yang utama sekaligus membedakan agama dari kehidupan. Jika ingin pendidikan maju dan menghasilkan generasi yang cemerlang demi masa depan negara yang cerah, sudah saatnya keluarga, masyarakat, dan negara menyadari dan segera meninggalkan sistem kapitalis-sekuler yang menggerayangi sistem pendidikan kita. [SM]

LAMPIRAN

Pewawancara :  Shintia Minandar (mahasiswi FKIP PBSI)

Narasumber     : Drs.Mangatur Sinaga M.Hum (Dosen FKIP PBSI)

Gambar

Melalui lampiran ini dinyatakan bahwa benar Shintia Minandar-mahasiswi FKIP PBSI- telah melakukan wawancara dengan Drs. Mangatur Sinaga, M.Hum-dosen FKIP PBSI pada hari kamis, 31 Mai 2012, pukul 07.20 WIB di Pondok Salero, kampus UR

Mengetahui :

                                                                                                                                                                                                                               Pekanbaru, 31 Mai 2012

Drs. Mangatur Sinaga, M.Hum

note: artikel ini telah berhasil mendapatkan juara 1 dari Lomba Narasumber Pendidikan se FKIP Universitas Riau yang ditaja oleh BEM FKIP

*(tanda-SM- merupakan  murni hasil karya Shintia Minandar-Mahasiswi Universitas Riau 2011, Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia)

pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana ada 9, yaitu:

jenis                                  => penjabaran

  1. verba                  => subkategorisasi, perpindahan kategori
  2. ajektiva              => subkategorisasi, pemakaian ajektiva
  3. nomina              => subkategorisasi, pemakaian nomina, nominalisasi
  4. pronomina       => subkategorisasi, pemakaian pronomina
  5. numerelia         => subkategorisasi
  6. adverbia            => subkategorisasi, pemakaian adverbia
  7. interogativa     => jenis dan pemakaiannya
  8. demonstrativa=> subkategorisasi
  9. artikula

berikut adalah penjabaran dari jenis-jenis kelas kata dalam bahasa Indonesia oleh Harimurti kridalaksana yang dikutip dari:

A. VERBA

Kata dikatakan berkategori verba jika dalam frasa dapat didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan tidak dapat didampingi partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Berdasarkan bentuknya verba dibedakan menjadi:

1.    Verba Dasar Bebas

Adalah verba yang berupa morfem dasar bebas.

Contoh: nonton, makan, mandi, minum, pergi, pulang, lari, loncat.

2.    Verba Turunan

Adalah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Bentuk turunannya, yaitu:

a.    Verba Berafiks

Contoh: berdandan, terbayang, kerinduan, kecelakaan, memasak, bekerja, menjalani.

b.    Verba Bereduplikasi

Contoh: lari-lari, ingat-ingat, maju-maju, semangat-semangat, malas-malas.

c.    Verba Berproses Gabungan

Contoh: bercanda-canda, tersenyum-senyum, terbayang-bayang, berandai-andai.

d.   Verba Majemuk

Contoh: buah tangan, cuci mata, unjuk gigi, adu domba, campur tangan, main hakim.

Subkategorisasi verba dapat dibagi sebagai berikut.

1.    Berdasarkan Banyaknya Nomina yang Mendampingi

a.    Verba Intransitif

Adalah verba yang menghindarkan objek. Klausa yang memakai verba ini hanya mempunyai satu nomina. Dalam verba ini terdapat verba yang berpadu dengan nomina, misalnya alih bahasa, campur tangan, cuci mata, bersepeda, bersepatu. Ada juga verba yang tidak bisa bergabung dengan perfiks me-, ber- tanpa mengubah makna dasarnya, disebut kata kerja aus.

Contoh: ada, balik (= kembali), bangun, benci akan, cinta akan, diam (= tidak bergerak).

b.    Verba Transitif

Adalah verba yang harus mendampingi obyek. Berdasarkan banyaknya obyek, terdapat beberapa verba:

§  Verba monotransitif, yaitu verba yang mempunyai satu obyek.

Contoh: saya (S) membeli buku (O).

§  Verba bitransitif, yaitu verba yang mempunyai dua obyek.

Contoh: ibu (S) membawa adik (O tak langsung) kue (O langsung).

§  Verba ditransitif, yaitu verba yang obyeknya tidak muncul.

Contoh: Adik sedang makan.

2.    Berdasarkan Hubungan Verba dengan Nomina

a.    Verba aktif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku, biasanya berprefiks me-, ber-, atau tanpa prefiks.

Contoh: Aku menunggu hingga akhir waktu.

Jika ditandai dengan sufiks –kan, akan bermakna benefaktif atau kausatif.

Contohnya: Ibu memasakkan ayah rendang.

Jika ditandai dengan sufiks –i , akan bermakna lokatif atau repetitif.

Contoh: Inez mengambili kerikil di halaman.

b.      Verba pasif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil. Biasanya diawali dengan prefiks di- atau ter-. Apabila ditandai dengan prefiks ter- maka bermakna perfektif.

Contoh:  Orang itu tertabrak mobilku.

Pada umumnya verba pasif dapat diubah menjadi verba aktif dengan cara mengganti afiksnya.

Contoh: Orang itu tertabrak mobilku —– Mobilku menabrak orang itu.

c.    Verba anti-aktif (ergatif), yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjadi verba aktif dan subyeknya merupakan penanggap (menderita, merasakan).

Contoh: Jariku tertusuk jarum.

d.   Verba anti-pasif, yaitu verba yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.

Contoh: Ia mencium kening Rina untuk terakhir kalinya.

3.    Berdasarkan Interaksi antara Nomina Pendampingnya

a.    Verba resiprokal, yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Beberapa bentuk verba resiprokal:

1)        ber+calon verba yang mempunyai sifat resiprokal, contoh: berperang

2)        ber+verba dasar+an, contoh: berpegangan

3)        ber+reduplikasi verba dasar+an, contoh: bersalam-salaman

4)        saling me+verba dasar+i, contoh: saling memukuli

5)        baku+verba dasar, contoh: baku tembak

6)        verba dasar1  + me+ verba dasar2, contoh: tolong menolong

7)        reduplikasi verba + an, contoh: cubit-cubitan

8)        saling ter- verba dasar, contoh: cubit-cubitan

9)        saling ke+verba dasar+an, contoh: saling kehilangan

10)    me+verba+ -i/-kan+satu sama lain, contoh: memaafkan satu sama lain.

b.   Verba non-resiprokal, yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.

4.    Berdasarkan Referensi Argumennya

a.    Verba refleksif, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang sama.

b.    Verba non refleksi, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang berlainan.

5.    Berdasarkan Hubungan Identifikasi antara Argumen-argumennya

a.    Verba kopulatif, yaitu verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan.

Contoh: merupakan, adalah.

b.    Verba ekuatif, yaitu verba yang mengungkapkan ciri salah satu argumennya.

Contoh: berjumlah, berlandaskan.

6.    Verba Telis dan Verba Atelis

a.     Verba telis menyatakan bahwa perbuatan tuntas atau bersasaran, sedangkan verba atelis menyatakan bahwa perbuatan belum tuntas.

Contoh:  Ayah mencangkul sawah—ayah bercangkul sawah.

b.    Verba performatif dan verba konstatatif, dibedakan menjadi:

1)   verba performatif, yaitu verba dalam kalimat yang secara langsung mengungkapkan pertuturan yang dibuat pembicara pada waktu mengujarkan kalimat.

Contoh: mengucapkan, menyebutkan

2)   verba konstatif, yaitu verba dalam kalimat yang menyatakan atau mengandung gambaran tentang suatu peristiwa.

Contoh:  menulis, menembaki.

Perpindahan Kategori

Selain bentuk dasar dan turunan verbal murni, terdapat pula verba yang berasal dari kategori lain, verba demikian ialah:

1)   verba denominal, yaitu verbayang berasal dari nomina,

contoh: memahat, membatu, berduri, berbudaya

2)   verba adjektival, yaitu verba yang berasal dari ajektiva,

contoh: menghina, meyakinkan

3)   verba deadverbial, yaitu verba yang berasal dari adverbial

contoh: menyudahi, bersungguh-sungguh.

B.  AJEKTIVA

Ajektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk bergabung dengan partikel tidak, mendampingi nomina, atau didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er (dalam honorer), -if (dalam sensitif), dan –i (dalam alami), dan dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an seperti keyakinan. Dari bentuknya ajektiva dapat dibedakan menjadi:

1.    Ajektiva Dasar

a.    Dapat diuji dengan kata sangat, lebih, misalnya: adil, agung, bahagia, bersih, cemberut, canggung, dungu, disiplin, enggan, elok, fanatik, fatal, ganteng, galau, haus, halus, indah, iseng, jelita, jahat, kenyal, kabur, lambat, lancar, mahal, manis, nakal, netral, otentik, padat, paham, ramai, rapat, sadar, sabar, taat, takut, untung, ulet, dsb.

b.    Tidak dapat diuji dengan kata sangat, lebih, misalnya: buntu, cacat, gaib, ganda, genap, interlokal, kejur, lancing, langsung, laun, musnah, niskala, pelak, tentu, tunggal, dsb.

2.    Ajektiva Turunan

a.    Ajektiva turunan berafiks misalnya terhormat.

b.    Ajektiva bereduplikasi, misalnya ringan-ringan.

c.    Ajektiva berafiks R-an atau ke-an, misalnya kemalu-maluan.

d.   Ajektiva berafiks –i, misalnya alami, alamiah (alam).

e.    Ajektiva yang berasal dari pelbagai kelas dengan proses-proses sebagai berikut.

1)   Deverbalisasi, misal: mencekam, menjengkelkan, terpaksa, tersinggung, dll.

2)   Denominalisasi, misal: pelupa, pemalas, rahasia, perwira, ahli, malam, panjang, dll.

3)   De-adverbialisasi, misal: bertambah, melebih, mungkin, menyengat, berkurang, dll.

4)   Denumeralia, misal: menunggal, mendua, menyeluruh.

5)   De-interjeksi, misal: aduhai, asoi, sip, wah, yahud.

3.    Ajektiva Majemuk

a.    Subordinatif: kepala dingin, juling bahasa, buta huruf, keras kepala, tipis bibir, sempit hati, patah lidah, panjang akal, cepat lidah, besar mulut, busuk tangan, lupa daratan, dll.

b.    Koordinatif: lemah gemulai, riang gembira, suka duka, lemah lembut, tua muda, senasib seperjuangan, letih lesu, gagah perkasa, aman sentosa, besar kecil, baik buruk, dll.

Subkategorisasi ajektiva, dibagi ke dalam dua macam kategori ajektiva sebagai berikut.

a.    (1) ajektiva predikatif, yaitu ajektiva yang dapat menempati posisi predikat dalam klausa, misalnya susah, hangat, sulit, mahal

(2) ajektiva atributif, yaitu ajektiva yang mendampingi nomina dalam frase nominal, misalnya nasional, niskala

b. (1) ajektiva bertaraf, yakni yang dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya seperti pekat, makmur

(2) ajektiva tak bertaraf,  yakni yang tidak dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya, seperti nasional, intern.

Pemakaian Ajektiva

Ajektiva dapat mengambil bentuk perbandingan, dan perbandingan itu dapat dibagi atas empat tingkat.

1)   Tingkat positif, yaitu yang menerangkan bahwa nomina dalam keadaan biasa.

Contoh: Kamarku sempit.

2)   Tingkat komparatif yang menerangkan bahwa keadaan nomina melebihi keadaan nomina lain. Contoh: Kamarku lebih sempit dari pada kamar adikku.

3)   Tingkat superlatif, yang menerangkan bahwa keadaan nomina melebihi keadaan beberapa atau semua nomina lain yang dibandingkannya.

Contoh: Shinta murid yang paling cantik di kelas. Dapat pula dinyatakan dengan prefiks –ter, menjadi: Shinta murid tercantik di kelas.

4)   Tingkat eksesif, yang menerangkan bahwa keadaan nomina berlebih-lebihan.

Contoh: Pertunjukan pagi itu amat sangat ramai.

Selain itu, dapat pula menggunakan dengan kata alangkah, bukan main, dan maha.

C.  NOMINA

Nomina adalah kategori yang secara sintaksis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak dan mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Nomina berbentuk:

1.    Nomina dasar, seperti radio, udara, kertas, barat, kemarin, dll.

2.    Nomina turunan, terbagi atas:

a.    Nomina berafiks, seperti keuangan, perpaduan, gerigi.

b.    Nomina reduplikasi, seperti gedung-gedung, tetamu, pepatah.

c.    Nomina hasil gabungan proses, seperti batu-batuan, kesinambungan.

d.   Nomina yang berasal dari pelbagai kelas karena proses:

1)   deverbalisasi, seperti pengangguran, pemandian, pengembangan, kebersamaan

2)   deajektivalisasi, seperti ketinggian, leluhur

3)   denumeralisasi, seperti kepelbagaian, kesatuan

4)   deadverbialisasi, seperti keterlaluan, kelebihan

5)   penggabungan, seperti jatuhnya, tridarma.

3.    Nomina paduan leksem, seperti daya juang, cetak lepas, loncat indah, tertib acara, jejak langkah.

4.    Nomina paduan leksem gabungan, seperti pendayagunaan, ketatabahasaan, pengambilalihan, kejaksaaan tinggi.

Subkategorisasi terhadap nomina dapat dilakukan dengan membedakan:

1.    Nomina Bernyawa dan Nomina Tak Bernyawa

Nomina bernyawa dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak.

a.    Nomina Bernyawa dapat dibagi atas:

1)   Nomina persona (insan), memiliki ciri-ciri a) dapat disubtitusikan dengan ia, dia, atau mereka, b) dapat didahului partikel si. Yang tergolong dalam nomina persona ialah:

a)    Nama diri, seperti Meilan, Byan, Adit. Nama diri sebagai nama tidak dapat direduplikasikan. Bila direduplikasikan ia menjadi nomina kolektif.

b)   Nomina kekerabatan, seperti kakek, nenek, kakak, adik, bapak, ibu, anak.

c)    Nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang, seperti tuan, nyonya, nona, raksasa, hantu, malaikat.

d)   Nama kelompok manusia, seperti Jepang, Malaysia, Minang kabau.

e)    Nomina tak bernyawa yang dipersonifikasikan seperti MPR (nama lembaga.)

2)   Flora dan fauna mempunyai ciri sintaksis

a)    tidak dapat disubtitusikan dengan ia, dia, mereka,

b)   tidak dapat didahului partikel si, kecualii flora dan fauna seperti yang personifikasikan dengan si kancil, si kambing.

b.    Nomina Tak Bernyawa dapat dibagi:

1)      Nama lembaga, seperti DPR, MPR, DPRD, UUD.

2)      Konsep geografis, seperti Bali, Purbalingga, utara, selatan hilir, hulu.

3)      Waktu, seperti Senin, Rabu, Mei, besok, lusa, 1988.

4)      Nama bahasa, seperti bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Banyumas.

5)      Ukuran dan takaran, seperti karung, guni, pikul, gram, ons, kilometer

6)      Tiruan bunyi, seperti aum, dengung, kokok.

2.    Nomina Terbilang dan Nomina Tak Terbilang

Nomina terbilang ialah nomina yang dapat dihitung dan dapat didampingi oleh numeralia, seperti buku, sepeda, kursi, meja. Nomian tak terbilang ialah nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia seperti kebersihan, kesucian; termasuk pula nama diri dan nama geografis.

3.    Nomina Kolektif dan Bukan Kolektif

Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubtitusikan dengan mereka. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar seperti tentara, keluarga; dan nomina turunan seperti tepung-tepungan, minuman, wangi-wangian.

Contoh nomina kolektif:

asinan                    cairan                    hadirin                  lauk-pauk              buah-buahan

aubade                  catatan                  jamaah  masyarakat           duet

batalyon                                dasar                      kawanan               ratusan  tritunggal

Penggunaan nomina di samping untuk menunjuk benda juga dipakai sebagai berikut.

1.    Sebagai penggolong benda, yang dipakai bersama numeralia untuk menandai kekhususan nomina tertentu. Contoh: bahu, carik, kecap, pucuk.

2.    Nomina tempat dan arah, seperti kanan, kiri, barat, selatan.

3.    Tiruan bunyi, seperti aum, deram, deru, krang kring.

4.    Makian, seperti monyet, anjing, bangsat.

5.    Sapaan, dibagi atas enam:

a.    nama diri, seperti Mari ke sini, Mey.

b.    nomina kekerabatan: Kak, kok baru pulang?

c.    gelar dan pangkat: Selamat pagi, Prof.

d.   kata pelaku yang berbentuk pe + verb: Pendengar yang terhormat.

e.    bentuk nomina + -ku: oh Tuhanku, ampuni dosa-dosa hamba.

f.     nomina lain: Ini jaket Tuan.

6.    Kuantita, seperti

bidang                   cekak                      gelas                      hasta                      langkah pikul

bongkah                                depa                       goni                        ikat                         onggok puntung

canting                  dulang                   guci                        kepal                      papan                    tusuk

7.    Ukuran, seperti gram, kilo, ons, sentimeter, kilogram, inci.

8.    Petunjuk waktu, seperti kemarin, lusa, besok, petang, malam, zaman.

9.    Hipostatis, yaitu kata berkelas apa saja yang “diangkat” dari wacana dan dibicarakan dalam metabahasa, misalnya kata berat dalam kalimat “berat terdiri dari lima fonem, dan maknanya berlawanan dengan ringan”.

Proses nominalisasi ialah proses pembentukan nomina yang berasal dari morfem atau kelas kata yang lain. Proses ini dapat terjadi dengan:

1.    Afiksasi

Berdasarkan pada kemungkinan kombinasinya, nomina turunan dapat dibagi atas bentuk yang beafiks dengan:

a.    ke-, pe-, dan per-, contoh: pembicara, pelaut, keamanan, pertapa

b.    an-, contoh: sayuran, manisan

c.    ke-an, pe-an, dan per-an, contoh: pemeriksaan, penghargaan, pertanyaan

2.    Proses nominalisasi dengan si dan sang, contoh: si manis, si kecil, sang dewi.

3.    Proses nominalisasi dengan yang, dengan menambahkan yang di depan dasar kita diperoleh bentuk nomina seperti: yang lari, yang cantik.

D.  PRONOMINA

Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina, yang digantikan itu disebut anteseden.

Subkategorisasi, pronominal

1.    Dilihat dari hubungannya dengan nomina, yaitu ada atau tidaknya anteseden dalam wacana. Berdasarkan hal itu, dibagi lagi menjadi:

a.    Pronomina Intertekstual

Bila enteseden terdapat sebelum pronomina, itu dikatakan anaforis, sedangkan  bila enteseden muncul sesudah pronomina, hal itu disebut kataforis.

Contoh anaforis: Pak Arif sepupu Bapak. Rumahnya dekat.

ò

Antaseden

Bersifat kataforis:

Dengan gayanya yang berapi-api itu, Soekarno berhasil menarik massa

ò

Antaseden

(Nya yang bersifat kataforis ini hanya bersifat intrakalimat).

b.    Pronomina ekstratekstual, yang menggantikan nomina yang terdapat di luar wacana, bersifat deiktis.

Contoh: Itu yang kukatakan.

2.    Dilihat dari jelas atau tidaknya referennya

a.    Pronomina Taktrif

Pronomina taktrif yaitu menggantikan nomina yang referennya jelas. Pronomina ini terbatas pada pronomina persona.

§  Pronomina persona I: saya, aku, kami, kita

§  Pronomina II: kamu, kalian

§  Pronomina III: dia, mereka

§  Pronomina tak takrif, yaitu pronomina yang tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu. Contoh: seseorang, barang siapa.

b.   Pemakaian Pronomina

1)   Dalam ragam nonstandar jumlah pronomina lebih banyak daripada yang terdaftar tersebut, karena pemakaian nonstandar tergantung dari daerah pemakaiannya.

2)   Dalam bahasa kuna juga terdapat pronomina, seperti baginda.

3)   Semua pronomina tersebut hanya dapat mengganti nomina orang, nama orang, atau hal lain yang dipersonifikasikan.

Alisjahbana menulis beberapa buku.

Mereka tebal-tebal.

E.  NUMERALIA

Numeralia adalah kategori yang dapat 1) mendamping nomina dalam konstruksi sintaksis, 2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, 3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau sangat.

Subkategorisasi

1.    Numeralia Takrif,

Numeralia takrif yaitu numeralia yang menyatakan jumlah yang tentu. Golongan ini terbagi atas:

a)    Numeralia utama (kardinal)

b)   Bilangan penuh, yaitu numeralia utama yang menyatakan jumlah tertentu. Dapat berdiri tanpa bantuan kata lain. Contoh: satu, tiga. Numeralia utama dapat dihubungkan langsung dengan satuan waktu, harga uang, ukuran, panjang, dan sebagainya.

c)    Bilangan pecahan, yaitu numeralia yang terdiri atas pembilang dan penyebut yang dibubuhi dengan partikel per- misalnya: dua pertiga, limaperenam.

d)   Bilangan gugus, seperti likur: bilangan antara 20 dan 30, misalnya selikur: 21, dua likur: 23.

2.    Numeralia Tingkat

Adalah numeralia takrif yang melambangkan urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Num. Contoh: Catatan ketiga sudah diperbaiki.

3.    Numeralia Kolektif

Adalah numeralia takrif yang berstruktur ke + Num, ber- + N, ber- + NR, ber- + Num R atau Num + -an.

Contoh: Ribuan kaum buruh melakukan demonstrasi.

4.    Numeralia Tak Takrif

Numeralia tak takrif adalah numeralia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya berapa, sekalian, semua, segenap.

F.   ADVERBIA

Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Bentuk adverbia:

1.    Adverbia dasar bebas, contoh: alangkah, agak, akan, belum, bisa.

2.    Adverbia turunan, yang terbagi atas:

a.    Adverbia turunan yang tidak berpindah kelas terdiri dari:

1)   Adverbia bereduplikasi, seperti jangan-jangan, lagi-lagi

2)   Adverbia gabunga, misalnya tidak boleh tidak

b.    Adverbia turunan yang berasal dari pelbagai kelas:

1)   Adverbia berafiks, misalnya terlampau, sekali

2)   Adverbia dari kategori lain karena reduplikasi, misalnya akhir-akhir, sendiri-sendiri

3)   Adverbia de-ajektiva, misalnya awas-awas, benar-benar

4)   Adverbia denumeralia, misalnya dua-dua

5)   Adverbia deverbal, kira-kira, tahu-tahu

6)   Adverbia yang terjadi dari gabungan kategori lain dan pronomina, misalnya rasanya, rupanya

7)   Adverbia deverbal gabungan, misalnya ingin benar, tidak terkatakn lagi

8)   Adverbia de ajektival gabungan, misalnya tidak lebih, kerap kali.

9)   Gabunga proses, misalnya : se- +A +-nya: sebaiknya

Subkategorisasi adverbial dibagi dua, yaitu:

1)   adverbia intraklausal yang berkontruksi dengan verba, ajektiva, numeralia, atau adverba lainnya, contoh:  masih, sudah, sungguh,

2)   adverbia ekstraklausal, secara sintaksis mempunyai kemungkinan untuk berpindah-pindah posisi dan secara semantis mengungkapkan prihal atau tingkat proposisi secara keseluruhan, contoh: bukan, justru, mungkin.

Pemakaian Adverbia dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menerangkan:

1)   Aspek, yaitu apakah suatu pekerjaan, peristiwa, keadaan, atau sifat dapat berlangsung (duratif), sudah selesai berlangsung (perfektif), belum selesai (imperfek), atau mulai berlangsung (inkoatif).

2)   Modalitas, menerangkan sikap atau suasana pembicara yang menyangkut pembicaraan, peristiwa, keadaan, atau sifat.

3)   Kuantitas, yaitu menerangkan frekuensi atau jumlah terjadinya suatu peristiwa, keadaan, dan sifat.

4)   Kualitas, menerangkan sifat atau nilai suatu perbuatan, peristiwa, keadaan, atau sifat.

G. INTEROGATIVA

Interogativa adalah kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara. Apa yang ingin diketahui dan apa yang dikukuhkan itu disebut antesenden (ada di luar wacana) dan karena baru akan diketahui kemudian, interogativa bersifat kataforis.

§  Interogativa dasar: apa, bila, bukan, kapan, mana, masa.

§  Interogativa turunan: apabila, apaan, apa-apaan, bagaimana, bagaimanakah, berapa, betapa, bilamana, bilakah, bukankah, dengan apa, di mana, ke mana, manakah, kenapa, mengapa, ngapain, siapa, yang mana, masakan.

§  Interogativa terikat: kah dan tah.

Jenis dan Pemakainnya

a.    apa, digunakan untuk:

1)   menanyakan nomina bukan manusia, misal:

Apa yang menyebabkan kau tidak menerimaku?

Apa yang dapat kulakukan untukmu?

2)   menanyakan proposisi yang jawabannya mungkin berlawanan, misal:

Apa emailku sudah kau baca? (Jawaban bisa sudah atau belum).

3)   mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara, misal: Apa benar seperti itu?

4)   dalam kalimat retoris, misal: Apa pantas seorang anak pejabat mencuri?

b.    bila, digunakan untuk menanyakan waktu, misal: Bila kekasihku datang?

c.    kah, digunakan untuk:

1)   mengukuhkan bagian kalimat yang diikuti oleh kah, misal:

Mungkinkah kau jadi milikku?

2)   menanyakan pilihan di antara bagian-bagian kalimat yang didahului oleh kah, misal: Berlari atau berenangkah temanmu itu?

3)   dalam ragam standar yang sangat resmidigunakan untukmelengkapi interogativa apa, mana, bagaimana, beberapa, di mana, mengapa, siapa, misal:

Siapakah yang akan menjadi teman hidupku?

d.    kapan, digunakan untuk menanyakan waktu, misal: Kapan kau akan menikahiku?

e.    mana, digunakan untuk

1)   menanyakan salah seorang atau salah satu benda atau hal dari suatu kelompok atau kumpulan, misal: Wanita mana yang akan kau pilih?

2)   Menanyakan pilihan, misal: Dia atau diriku?

f.     tah, digunakan dalam bahasa arkais untuk bertanya kepada diri sendiri, misal:

Apatah dayaku dengan ketidaksempurnaanku?

g.    apabila, digunakan dalam bahasa yang agak arkais untuk menanyakan waktu, misal: Apabila dia melamarku?

h.   apakala, digunakan dalam bahasa yang arkais untuk waktu, sama dengan apabila.

i.      apaan, digunakan dalam ragam non-standar seperti halnya dengan apa; kadang-kadang dengan nada yang meremehkan, misal: Makanan apaan itu?

j.      apa-apaan, digunakan dalam ragam non-standar untuk menanyakan tindakan, tanpa mengharap jawaban, misal: Apa-apaan kau ini?

k.    bagaimana, digunakan untuk:

1)   menanyakan cara perbuatan, misal: Bagaimana caranya kau meyakinkanku?

2)   menanyakan akibat suatu tindakan, misal: Bagaimana kalau dia tidak datang?

3)   meminta kesempatan dari lawan bicara (diikuti kata kalau, misal:

Bagaimana kalau bulan madu kita ke Bali?

4)   menanyakan kualifikasi atau evaluasi atas suatu gagasan, misal:

Bagaimana menurutmu?

l.      berapa, digunakan untuk menanyakan bilangan yang mewakili jumlah, ukuran, takaran, nilai, harga, satuan, waktu, misal:

Berapa harga beras per kilo?

Berapa orang yang hadir dalam acara ini?

Berapa panjang jembatan yang baru di bangun itu?

m. betapa, digunakan dalam bahasa yang arkais, seperti halnya bagaimana, misal:

Betapa bicaramu?

n.   bilamana, digunakan dalam ragam sastra untuk menanyakan waktu, misal:

Bilamana Indonesia merdeka?

o.    bukan, digunakan sesudah suatu pernyataan untuk mengukuhkan proposisi dalam pernytaan itu, misal: Engkau jadi pergi, bukan?

p.    bukankah, digunakan dalam awal kalimat untuk mengukuhkan proposisi, misal:

Bukankah engkau seorang dosen?

q.    di mana, digunakan untuk menerangkan tempat, misal: Di mana rumah barumu?

r.kenapa, digunakan untuk:

1)   dalam ragam non-standar untuk menanyakan sebab atau alasan (sama dengan mengapa), misal: Kenapa ia rela melakukan itu padaku?

2)   dalam ragam non-standar untuk menanyakan keadaan, misal: Kenapa rambutmu?

s.     mengapa, digunakan untuk menanyakan sebab, alasan, atau perbuatan, misal:

Mengapa hari ini kamu terlihat aneh?

t.      ngapain, digunakan dalam bahasa non-standar untuk menanyakan sebab atau alasan, misal: Ngapain kamu di sini?

u.   siapa, digunakan untuk:

1)   menanyakan nomina, insane, misal: Siapa dosen berbaju ungu itu?

2)   menanyakan nama orang, misal: Siapa nama ayah dan ibumu?

v.    yang mana, digunakan untuk menanyakan pilihan, misal:

Yang mana hendak engkau pilih?

w.  masakan/masa, digunakan untuk menyatakan ketidakpercyaan dan sifatnya retoris, misal: Katanya dia sudah pergi. Masa?

*Kata apa dalam kalimat tidak tahu aku apa yang mereka cari bukan merupakan interogativa, tetapi pronominal.

*Kah tidak dipakai untuk melengkapi kata tanya yang dipakai dalam ragam non-standar.

H.  DEMONSTRATIVA

Demonstrativa adalah kategori yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu (antesenden) di dalam maupun di luar wacana. Dari sudut bentuk dapat dibedakan berikut ini.

1.    Demonstrativa dasar (itu dan ini)

2.    Demonstrativa turunan (berikut, sekian)

3.    Demonstrativa gabungan (di sini, di situ, di sana, ini itu, sana sini)

Berdasarkan ada tidaknya antesenden dalam wacana demonstrativa dibagi:

1.    Demonstrativa Intratekstual (Endoforis)

Demonstrativa ini menunjukkan sesuatu yang terdapat dalam dalam wacana dan bersifat ekstrakalimat. Demonstrativa ekstrakalimat bersifat anaforis (itu, begitu, demikian, sekian, sebegitu, sedemikian) dan kataforis (begini, berikut, sebagai berikut).

2.    Demonstrativa Ekstratekstual (Eksoforis atau deiktis)

Demonstrativa ini menujukkan sesuatu yang ada di luar bahasa, dan dapat dibagi atas jauh dekatnya antesenden dari pembicara, yaitu:

proksimal (dekat)                                sini

semi-proksimal (agak dekat)            situ

distal (jauh)                                          sana

*Jika demonstrativa-demonstrativa di atas digabungkan dengan preposisi, maka akan terjadi gabungan kedua kelas itu dengan klasifikasi:

‘diam’                    ‘bergerak’

proksimal                              di sini                      ke sini                     dari sani

semi-proksimal    di situ                     ke situ                    dari situ

distal                                      di sana                   ke sana                  dari sana

*Gabungan ke sini bermakna sama dengan ke mari (gabungan preposisi dan interjeksi). Demonstrativa seperti halnya dengan nomina, pronominal, dan interogativa, dapat berdiri sendiri ataupun dapat menjadi modifikator atau atribut dalam frasa, misalnya:

Ini cincinnya.

Cincin ini imitasi. 

I.     ARTIKULA

Artikula dalam bahasa Indonesia adalah kategori yang mendampingi nomina dasar misalnya si kancil, sang matahari, para pelajar, nomina deverbal (si terdakwa, si tertuduh), pronominal (si dia, sang aku), dan verba pasif (kaum tertindas, si tertindas). Artikula berupa partikel, jadi tidak berafiksasi.

Berdasarkan ciri semantis gramatikal artikula dibedakan sebagai berikut.

1.    Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan nomina singularis, jadi bermakna spesifikasi. Artikula tersebut adalah:

si dapat bergabung dengan nomina singularis, baik nomina persona, satwa maupun benda ajektiva, pronominal, dan menyatakan ejekan, keakraban, dan personifikasi.
sang digunakan untuk meninggikan harkat kata yang didampinginya, biasanya bergabung dengan nomina, baik persona, satwa, maupun benda yang menyatakanpersonifikasi misalnya Sang Saka, Sang Merah Putih, sang juga menyatakan maksud mengejek atau menghormati, misalnya sang suami, sang guru, sang juara, dll.
sri dipakai untuk mengkhususkan orang yang sangat dihormati, misalnya Sri Baginda, Sri Ratu, Sri Paus.
hang dan dang dipakai untuk menerangkan nama pria dan wanita dalam sastra lama.

2.    Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan suatu kelompok, yaitu:

para digunakan untuk mengkhususkan kelompok, misalnya para guru, para mahasiswa, para ibu, para hadirin.
kaum digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berideologi sama, misalnya kaum buruh, kaum teroris, kaum wanita, kaum duafa.
umat digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berlatar belakang agama yang sama, misalnya: umat Islam, umat Kristiani, umat manusia.

*Dalam karangan inidibedakan antara nomina deverbal dengan verba pasif. Dalam bentuk si terdakwa prosesnya merupakan deverbalisasi, baru digabung dengan artikel si, sedangkan dalam bentuk kaum tertindas perubahan kelasnya tidak serapih itu. Yang terjadi bukan deverbalisasi tertindas, melainkan perubahan kelas yang terjadi dalam gabungan si + tertindas.

*Gabungan antara artikula dengan verba pasif membentuk nomina.

*Kaum dan umat merupakan artikula denominal. Kaum Muslimin dan umat Islam merupakan frasa nominal (gabungan nomina+nomina), tapi kemudian kata kaum dan umat dipisahkan dan bergabung dengan kata-kata lain sehingga menjadi artikula.

J.    PREPOSISI

Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frasa eksosentris direktif. Ada tiga jenis preposisi, yaitu sebagai berikut.

1.    Preposisi dasar (tidak dapat mengalami proses morfologis).

2.    Preposisi turunan, terbagi atas:

a.       Gabungan preposisi dan preposisi

b.      Gabungan preposisi dan non-preposisi.

Bentuk-bentuk preposisi yang hampir serupa dengan gabungan preposisi + preposisi dapat berpola:

preposisi + nomina lokal +

antara

atas

balik

bawah

di                                             belakang

ke                            +              dalam                    +              nomina atau frasa nomina lain.

dari                                         dekat

depan

hadapan

luar

muka

Contoh: di atas gedung, di muka bumi, di tengah-tengah kota

Ada gabungan preposisi + preposisi yang membentuk pola frasa:

Preposisi1 + {} +preposisi2 + {}

Contoh:

Ia belanja dari toko ke toko.

Sejak dulu hinggasekarang aku masih menunggu.

Dari Semarang sampaiJakarta ia tempuh demi orangtaunya.

Antara saya dengan dia hanya sahabat dekat saja.

3.    Preposisi yang berasal dari kategori lain (misalnya pada dan tanpa) termasuk beberapa preposisi yang berasal dari kelas lain yang berafiks se- (selain, semenjak, sepanjang, sesuai, dsb).

Daftar Preposisi

akanakibatantarantaraantara … denganbagai

‘bagaikan

bagi

bak

berbeda dengan

berhadapan

berhadapan dengan

berhubung

berhubung dengan

berkat

berkenaan dengan

berlainan dengan

berlawanan dengan

bersamaan dengan

bersangkutan dengan

bertentangan dengan

bertolak dari

buat (non standar)

dalam

dari

dari antara

daripada

dari … ke

dari … sampai

demi

dengan

di

gunaguruhinggakarenakekecuali

kepada

ketimbang

kurang

laksana

lantaran

lewat

melalui

mengenai

mengingat

mengingat akan

menjelang

menuju

menuju ke

menurut

menyangkut

oleh

oleh karena

oleh sebab

pada

pasal

per

peri

perihal

perkara

sama (non standard)

sampaisampai dengansebagaisebagaimanasecarasedari

seiring

sejajar

sejak

sejalan

sekeliling

sekitar

selain

selain daripada

selama

selaras

semacam

semenjak

seperti

sepanjang

sesuai dengan

tanpa

tentang

terhadap

tinimbang

untuk

waktu

Preposisi

Dasar Turunan- Gabungan Turunan Pindahan Kelas
Berafiks
Denominal Deverbal Dekonjungsional
bakdaridemidengandioleh

ke

sejak

seperti

daripadakepadaoleh karenaoleh sebabsejak dariselain dari

selain daripada

sejak … hingga

dari … ke

sejak … sampai

antara … dengan

bagaikanlantaransebagaisecarasekelilingsekitar

selama

semacam

sepanjang

seingat

melaluimengenaimengingatmenjelangmenimbangmenuju

menurut

terhadap

tinimbang

ketimbang

berhubung

menyangkut

seiring

sebagaimanaselainsemenjak

Preposisi dalam Pemakaian

1.      Parasanya bak bidadari yang turun dari langit.

2.      Demi sesuap nasi ia meninggalkan anak dan istri ke negeri orang.

3.      Selama kekasihnya pergi, ia selalu sendiri.

4.      Para buruh demo karena gajinya tidak dibayarkan.

5.      Menjelang senja dikayuhnya perahu ke laut.

6.      Mengingat usia yang sudah tua, Ani tidak mau menunggu lama lagi untuk menikah.

7.      Sebelum tidur diceritakannya peri persahabatan antara kura-kura dank era.

8.      Akibat kemarau panjang banyak daerah kekeringan.

9.      Sebenarnya antara aku dan dia saling mencintai, tapi sama-sama tidak mau mengakui.

10.  Tanpa kehadirannya, aku tidak akan berangkat.

K. KONJUNGSI

Konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam kontruksi. Konjungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran maupun yang tidak setataran.

Contoh:

(a)   Dia marah karena saya.

(b)   Dia marah karena saya meninggalkannya.

(c)    Adik saya dua orang yaitu Adit dan Byan.

Dalam kalimat (a) karena merupakan preposisi, karena diikuti oleh satuan kata sehingga merupakan konstruksi eksosentris, sedangkan dalam kalimat (b) karena merupakan konjungsi, karena menghubungkan klausa dengan klausa. Dalam kalimat (c) konjungsi yaitu berperan sebagai penghubung klausa dan sekaligus berperan sebagai penunjuk anaforis. Contoh lain adalah begitu dalam kalimat Begitu datang ia langsung menangis.

Di samping itu, terdapat beberapa konjungsi yang merupakan gabungan se- + verba, misalnya sedatang, sehabis, selepas, selagi, dan sebagainya. Konjungsi semacam ini mempunyai fungsi dan makna gabungan konjungsi dan verba.

Menurut posisinya konjungsi dibagi menjadi berikut ini.

1.    Konjungsi Intra-kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan satuan-satuan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi itu yaitu:

agaragar supayaakan tetapialih-alihandaikataapabila

asal

asalkan

atau

bahwa

bahwasanya

baik … ataupun

baik … baik

baik … maupun

begitu

begitu … begitu

berhubung

bertambah … bertambah

biar

biarpun

biar … asal

bilamana

boro-boro (non standar)

dan

dan lagi

daripadademidi manadi mana … di situdi sampingentah-entah

gara-gara

hanya

hingga

jangan-jangan

jangankan

jangankan … selang

jika

jikalau

jika kiranya

kalau

kalau-kalau

kalaupun

karena

kecuali

kemudian

kendati

kendatipun

ketika

kian … kian

lagi

lalu

lamunlantaranlantaslebih-lebihmakamakin-makin

manakala

manalagi

melainkan

mentang-mentang

meski

meskipun

misalnya

namun

nan

oleh karena

padahal

sambil

sampai

sampai-sampai

seakan-akan

seandainya

sebab

sedang

sedangkan

sehingga

sekalipun

sekiranyasembarisementaraseolah-olahserayaserta

sesungguhnya

setelah sudah … maka

supaya

tapi

tatkala

tempat

tengah

tetapi

tiap kali

umpamanya

waktu

walau

walaupun

yang (relatif:non -standar)

ya…ya

yaitu

yakni

2.    Konjungsi Ektra-kalimat, yang terbagi lagi atas:

(a)   Konjungsi intratekstual, yaitu menghubungkan kalimat dengan kalimat, atau paragraph dengan paragraph, yaitu:

akan tetapiapalagibahkanbiarpun demikianbiarpun begitudan

dan lagi

dalam pada itu

di samping itu

itu pun

kecualikemudian lagi pulalebih-lebih lagimakamaka itumalah

malahan

mana lagi

manapula

meskipun begitu

meskipun demikianoleh karena itusebaliknyasekalipun begitusekalipun demikiansebelumnya

selain itu

selanjutnya

sementara itu

sesudah itu

sesungguhnyasetelah itusungguhpun demikiansungguhpun begitutambahan lagitambahan pula

walaupun demikian

(b)   Konjungsi ektratekstual, yang menghubungkan dunia di luar bahasa dengan wacana, yaitu:

adapunalkisaharkian begituhattahubaya-hubaya makamaka itumengenai sebermulasyahdanomong-omong (non-standar)teringatnya

Tugas konjungsi sesuai dengan makna satuan-satuan yang dihubungkan oleh konjungsi dibedakan sebagai berikut.

1.    Penambahan, misalnya: dan, selain, tambahan lagi, bahkan.

2.    Urutan, misalnya: lalu, lantas, kemudian.

3.    Pilihan, misalnya: atau, entah … entah.

4.    Gabungan, misalnya: baik … maupun.

5.    Perlawanan, misalnya: tetapi, hanya, sebaliknya.

6.    Temporal, misalnya: ketika, setelah itu.

7.    Perbandingan, misalnya: sebagaimana, seolah-olah.

8.    Sebab, misalnya: karena, lantaran.

9.    Akibat, misalnya: sehingga, sampai-sampai.

10.    Syarat, misalnya: jikalau, asalkan.

11.    Tak bersyarat, misalnya: meskipun, biarpun.

12.    Pengandaian, misalnya: andai kata, sekiranya.

13.    Harapan, misalnya: andai kata, sekiranya, seumpama.

14.    Perluasan, misalnya: yang, di mana, tempat.

15.    Pengantar obyek, misalnya: bahwa, yang.

16.    Cara, misalnya: sambil, seraya.

17.    Perkecualian, misalnya: kecuali, selain.

18.    Pengantar wacana, misalnya: sebermula, adapun, maka.

*Konstruksi hipotaktis adalah frasa gabungan atau klausa gabungan yang secara lahiriah mempergunakan penghubung, sedangkan yang tidak menggunakan penghubung disebut konstruksi parataktis.

Pemakaian konjungsi, misalnya:

1.    Kamu harus rajin belajar agar dapat lulus ujian.

2.    Jangan berunding karenaketakutan, akan tetapi jangan takut untuk berunding.

3.    Bertambah lama dipandang, bertambah cantik saja parasnya.

4.    Dia atau diriku yang kau pilih?

5.    Andaikata aku orang kaya, aku akan keliling dunia bersamamu.

6.    Kau boleh pergi asal jangan pulang terlalu malam.

7.    Baik mahal ataupun murah tidak akan kubeli.

8.    Berhubung sudah terlambat maka saya terburu-buru berangkat ke kampus.

9.    Jangankan bunga, emas pun tidak akan kuterima darimu.

10.    Kendatipun engkau berada jauh, aku akan tetap merindukanmu.

L.  KATEGORI FATIS

Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan komunikasi antara pembicara dan lawan bicara. Kelas kata ini terdapat dalam dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam bahasa lisan (non-standar) sehingga kebanyakan kalimat-kalimat non-standar banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional.

Bentuk-bentuk fatis misalnya di awal kalimat Kok kamu melamun?, di tengah kalimat, misalnya Dia kok bisa ya menulis puisi seindah ini?, dan di akhir kalimat, misalnya Aku juga kok! Kategori fatis mempunyai wujud bentuk bebas, misalnya kok, deh, atau selamat, dan wujud bentuk terikat, misalnya –lah atau pun.

Bentuk dan Jenis Kategori Fatis, dapat diuraikan sebagai berikut.

1.    Partikel dan Kata Fatis

a.    ah, menekankan rasa penolakan atau rasa acuh tak acuh, misalnya:

“Ayo ah kita pergi!”, “Ah yang benar saja kau!”

b.    ayo, menekankan ajakan, misalnya: “Ayo kita pergi!”, “Kita pergi yo!”

Ayo mempunyai variasi yo bila diletakkan di akhir kalimat. Ayo juga bervariasi dengan ayuk dan ayuh.

c.    deh, digunakan untuk menekankan:

1)   pemaksaan dengan membujuk, misalnya: “Makan deh, jangan malu-malu!”

2)   pemberian persetujuan, misalnya: “Boleh deh!”

3)   pemberian garapan, misalnya: “Makanan dia enak deh!”

4)   sekadar penekanan, misalnya: “Jadi benci deh sama dia!”

d.   dong, digunakan untuk:

1)   Menghaluskan perintah, misalnya: “Bagi dong kuenya!”

2)   Menekankan kesalahan lawan bicara, misalnya: “Ya jelas dong!”

e.    ding, menekankan pengakuan kesalahan pembicara, misalnya: “Eh, iya ding salah!”

f.     halo, digunakan untuk:

1)   Memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, misalnya: “Halo?”

2)   Menyalami kawan bicara yang dianggap akrab, misalnya: “Halo, lama tak jumpa?”

g.    kan, apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan merupakan kependekan dari kata bukan atau bukankah, dan tugasnya ialah menekankan pembuktian, misalnya: “Kan dia sudah tahu!”, “Bisa saja kan?”

Apabila kan terletak di tengah kalimat, maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan, misalnya: “Tadi kan sudah dikasih tahu!”

h.    kek, mempunyai tugas:

1)   menekankan pemerincian, misalnya: “Elu kek, gue kek, sama saja.”

2)   menekankan perintah, misalnya: “Cepetan kek, kenapa sih?”

3)   menggantikan kata saja, misalnya: “Elu kek yang pergi!”

i.      kok, menekankan alasan dan pengingkaran, misalnya: “Saya cuma ketiduran sebentar kok!”, “Kok begitu sih?”, “Dia kok yang ambil bukuku!”

kok dapat juga bertugas sebagai pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat, misalnya: “Kok sakit-sakit pergi juga?”

j.      –lah, menekankan kalimat imperatif, dan penguat sebutan dalam kalimat, misalnya:

“Tutuplah pintu kamar itu!”,  “Biar sayalah yang pergi.”

k.    lho, bila terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan, misalnya: “Lho, kok jadi gini sih?”

Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian, misalnya: “Saya juga mau lho.”

l.      mari, menekankan ajakan, misalnya: “Mari makan.”

m.  nah, selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain, misalnya: “Nah, sekarang bacalah cerpen ini!”

n.    pun, selalu terletak pada ujung konstituen pertama dan bertugas menonjolkan bagian tersebut, misalnya: “Membaca pun ia tidak bisa.”

o.    selamat, diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik, misalnya: “Selamat ya, tulisanmu dimuat lagi di koran.”

p.    sih, memiliki tugas:

1)   menggantikan tugas –tah dan –kah, misalnya: “Apa sih maunya itu orang?”

2)   sebagai makna ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, misalnya: “Bagus sih bagus, tapi harganya selangit!”

3)   menekankan alasan, misalnya: “Abis dia nakal sih!”

q.    toh, bertugas menguatkan maksud, ada kalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi, misalnya: “Saya toh tidak merasa bersalah.”

r.     ya, bertugas:

1)   mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran, misalnya: “Ya aku mencintaimu.”

2)   minta persetujuan atau pendapat kawan bicara, bila dipakai pada akhir ujaran, misalnya: ”Jangan pergi ya?”, “Ke mana ya?”

s.     yah, digunakan pada awal atau tengah-tengah ujaran, tapi tidak pernah di akhir ujaran untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal ujaran: atau keragu-raguan atau ketidakpastian atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila dipakai di tengah ujaran, misalnya:

“Yah, apa aku bisa melakukannya?”

2.    Frase Fatis

a.    frase dengan selamat digunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan lawan bicara sesuai dengan keperluan dan situasinya, misalnya:

selamat pagi                         selamat malam    selamat jalan

selamat siang                       selamat tidur                        selamat makan

selamat sore                         selamat jumapa  selamat berulang tahun

b.    terima kasih digunakan setelah pembicara merasa mendapatkan sesuatu dari kawan bicara.

c.    turut berduka cita digunakan sewaktu pembicara menyampaikan bela sungkawa.

d.   assalamu’alaikum digunakan pada waktu pembicara memulai interaksi.

e.    wa’alaikumsalam digunakan untuk membalas kawan bicara yang mengucapkan assalamu’alaikum.

f.     insya Alloh diucapkan oleh pembicara ketika menerima tawaran mengenai sesuatu dari kawan bicara.

Selain frase fatis dalam ragam tulis, ada pula frase fatis ragam lisan, misalnya:

g.    dengan hormat digunakan penulis pada awal surat

h.    hormat saya, salam takzim, wassalam digunakan penulis pada akhir surat.

M.INTERJEKSI

Interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara: dan secara sintaksis tidak berhubungan dengan kata-katalain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri.

Interjeksi dapat ditemui dalam:

1.    Bentuk dasar, yaitu: aduh, aduhai, ah, ahoi, ai, amboi, asyoi, ayo, bah, cih, cis, eh, hai, idih, ih, lho, oh, nak, sip, wah, wahai, yaaa.

2.    Bentuk tururnan, biasanya berasal dari kata-kata biasa, atau pengalan kalimat Arab, contoh: alhamdulillah, astaga, brengsek, buset, dubilah, duilah, insya Alloh, masyallah, syukur, halo, innalillahi, yahud.

Jenis interjeksi dapat diuraikan sebagai berikut.

1.    Interjeksi seruan atau panggilan minta perhatian: ahoi, ayo, eh, halo, hai, he, sst, wahai.

2.    Interjeksi keheranan atau kekaguman: aduhai, ai, amboi, astaga, asyoi, hm, wah, yahud.

3.    Interjeksi kesakitan: aduh.

4.    Interjeksi kesedihan: aduh.

5.    Interjeksi kekecewaan dan sesal: ah, brengsek, buset, wah, yaa.

6.    Interjeksi kekagetan: lho, masyaallah, astaghfirullah.

7.    Interjeksi kelegaan: Alhamdulillah, nah, syukur.

8.    Interjeksi kejijikan: bah, cih, cis, hii, idih, ih.

N.  PERTINDIHAN KELAS

Kategori kata sebagaimana disajikan di atas belum dapat dianggap selesai kalau belum memecahkan persoalan yang terdapat dalam contoh berikut:

1.    Kucing saya mati kemarin.

2.    Mati itu bukan akhir segalanya.

3.    Ini harga mati.

Dalam menghadapi kenyataan tersebut dapat mengambil tiga jalan; yang pertama, menggolongkan contoh pertama atas tiga kategori, yaitu:

Mati sebagai verba intransitif

Mati2 sebagai nomina

Mati3­ sebagai verba intransitif (atributif)

Dasarnya ialah pendirian bahwa fungsi gramatikal tidak dapat dipergunakan sebagai ciri kelas kata, jadi subyek tidak bisa dipakai sebagai ciri nomina atau prediakt sebagai ciri verba.

This slideshow requires JavaScript.

even besar ini berlangsung selama 4 hari dari tanggal 1 -4 Juni 2012

diikuti oleh ratusan mahasiswa dan HIMA-HIMA yang ada di FKIP UR

barbagai acara yang seru dan menyenangkan ada di even tahun-an ini

sayapun tidak menyia-nyiakan even ini dengan ikut berpartisipasi pada lomba narasumber pendidikan(sejenis lomba membuat artikel dengan mewawancarai tokoh FKIP) dan alhamdulillah mendapat juara 1 ^^ terimakasih ya Allah.

 

teruslah berjuang menyuarakan syariah dan khilafah melalui karya-karya brilianmu ^_^

This slideshow requires JavaScript.

 

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 156 pengikut lainnya.